z35W7z4v9z8w

Berkunjung ke Festival Padang Melang 2020

DCIM100MEDIADJI_0263.JPG

Anambas.id – Festival Padang Melang merupakan event terbesar yang di selenggarakan di Kepulauan Anambas. Festival ini sudah masuk dalam agenda kalender Event provinsi kepulauan riau. Apabila waktu anda berkunjung ke Anambas bertepatan dengan pelaksanaan festival ini kepuasan jiwa traveling anda termanjakan. Dalam event ini digelar tradisi – tradisi masyarakat Anambas yang tidak anda jumpai saat hari – hari biasa, Tradisi tolak bale, pertunjukkan Mendu dan Gobang, tari zapin.

Selain kegiatan atau event yang kita lihat saat berkunjuJng ke Anambas, hal  menarik lain yang harus kita ketahui tentang Anambas adalah Budayanya yang sangat menarik. Salah satu budaya yang ada dan masih dipraktekan oleh masyarakat lokal adalah Tradisi upacara tolak bala, mungkin anda sering mendengar istilah upara tolak bala di daerah lainnya. Hal yang membedakan dari daerah lain adalah pada Kesenian dan Budaya  Upacara Tolak Bala merupakan tradisi dari masyarakat Desa Mampok, Kecamatan Jemaja, Kabupaten Kepulauan Anambas sebagai bentuk doa kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk menolak dan menghindarkan warga dari bencana dan mala petaka baik di kampung maupun ketika mereka melaut/berkebun. Semua warga berpakaian kurung melayu membawa  ketupat Tolak Bala (bentuk seperti bantal guling), ketupat kotak, beragam jajanan kampong dan botol air mineral dalam kemasan botol, kemudian diletakkan di depan tokoh adat yang akan memimpin doa tolak bala untuk didoakan. Disamping itu disiapkan pula makanan khusus tradisi Tolak Bale yaitu Nasi Bertih (beras yang digoreng sehingga menjadi seperti pop corn dan dicampur parutan kelapa yang di”kukur” dan gula yang dilumerkan). Doa akan dimulai dengan permainan gendang panjang untuk memanggil warga berkumpul. Selanjutnya Tokoh Adat akan melantunkan Doa Tolak Bale dalam bahasa arab dan memanjatkan doa selamat. Setelah doa dipanjatkan, maka akan dibagikan Nasi Bertih ke piring-piring warga. Nasi Bertih ini harus dihabiskan dan setelah habis dimakan maka piring kosongnya harus ditelungkupkan sdebagai simbol menutup segala celah masuknya bala bahaya/musibah. Dilanjutkan dengan makan bersama segala jajanan kampong yang tadi dibawa dan air mineral yang telah didoakan. Sembari warga menikmati makanan, maka jongkong-jongkong akan ke laut dan menyemah/menabur  Nasi Bertih ke laut pertanda rasa syukur dan mengusir segala aura negative dari laut melalui berbagi makanan tersebut dengan penghuni laut dan binatang laut termasuk untuk menarik perhatian ikan-kan agar mendekat untuk nantinya ditangkap.

kesenian pun banyak ditampilkan. Diantaranya :

Mendu

Mendu adalah salah satu kesenian teater rakyat Anambas yang mengisahkan tentang terbuangnya Putri siti Mahdewi di tengah hutan yang berada diwilayah Kerajaan Antapura karena kutukan sihir. Kesenian ini telah ada sejak tahun 1870. Pada zaman dulu pertunjukan Mendu ini memiliki durasi sampai dengan 44 malam, Pementasan hari pertama hingga hari yang keempat puluh empat berlangsung hingga setiap malam. Hanya saja dalam perkembangannya kini pertunjukannya dapat dipersingkat hingga 1 sampai 2 hari bahkan bisa menjadi 2 jam saja.

Kesenian berikutnya adalah pertunjukkan Gobang. Kesenian ini masih bertahan hingga saat ini. Permainan yang dilakukan oleh para makhluk halus Orang Bunian pada zaman dahulu. Permainan gubang ini dilaksanakan pada malam hari hingga fajar  menyingsing yang semulanya bertujuan untuk acara ritual sebuah pengobatan,dengan  perkembangan  zaman dan waktu permainan gubang telah berubah menjadi suatu  Kesenian.

Tradisi dan adat yang masih bertahan di tanah Anambas lainnya adalah pada saat upacara perkawinan, masyarakat masih mempertahankannya hamper setiap ritual mereka jalankan,mulai dari Berarak Tradisi berarak sendiri telah lama digunakan oleh masyarakat Melayu Anambas. Biasanya berarak ini untuk menyambut tamu kehormatan serta mengiring Penganten Laki-laki yang hendak menuju kerumah mempelai perempuan untuk melangsungkan Akad Nikah. Hantaran Membawa hantaran ketika mengiringi mempelai laki-laki menuju kerumah mempelai  perempuan adalah salah satu adat pernikahan Melayu. Kebiasaan ini telah nerlangsung cukup lama. Hantaran tersebut bermacam-macam, mulai dari cincin pernikahan, seperangkat alat sholat, pinang dan daun sirih, Semuanya diiringi oleh kaum kerabat dan sanak familiHingga pada saat Akad Nikah / Ijab Kabul pun berlangsung menjadi syarat syahnya pernikahan sebagaimana disyariatkan dalam agama Islam. Selanjutnya ada tradisi Cecah Inai, Cecah inai merupakan salah satu adat Melayu dalam merayakan pesta pernikahan. Cacah inai ini biasanya dilakukan oleh orang-orang tua kerabat dekat. Dalam perkembangan Zaman dan Merujuk petuah – petuah adat, inai secara umum digunakan sebagai tanda bahwa yang memakai inai sudah menikah dan tak boleh diganggu lagi dan sebagai tanda terhindar fitnah jalan berdua.

Berkunjung ke Festival Padang Melang 2020
Berkunjung ke Festival Padang Melang 2020
Berkunjung ke Festival Padang Melang 2020
Berkunjung ke Festival Padang Melang 2020
Berkunjung ke Festival Padang Melang 2020
Berkunjung ke Festival Padang Melang 2020
Berkunjung ke Festival Padang Melang 2020
Berkunjung ke Festival Padang Melang 2020
Berkunjung ke Festival Padang Melang 2020
Berkunjung ke Festival Padang Melang 2020
Berkunjung ke Festival Padang Melang 2020
Berkunjung ke Festival Padang Melang 2020